Tampilkan postingan dengan label daun tempuyung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daun tempuyung. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2009

CALCUSOL - Peluruh Batu Ginjal

Hasil penemuan Prof. Dr. M. Sardjito
Pengawas produksi : Dr. Mae Sri Hartati W, MSi, Apt.
Dep. Kes RI. No. Ijin Produksi : 12127/Kanwil/FM-4/X/1991
POM TR. 083 377 131


Manfaat:
- meluruhkan batu ginjal / melarutkan dan mencegah terkumpulnya unsure-unsur yang akan membentuk batu ginjal
- Mengurangi rasa pegal di pinggang dan sakit anyang-anyangan (dysuria)

Menurut hasil observasi :
Sekali badan membentuk ginjal, maka seumur hidup badan akan membentuknya karena badan tidak mempunyai kekuatan sendiri untuk melarutkannya. Batu yang terbentuk itu akan terus membesar dan lama kelamaan akan menimbulkan rasa sakit yg luar biasa (kholik).

Untuk menghindari hal tersebut, maka saat mulai terasa pegal-pegal disarankan minum Calcusol. Kapsul Calcusol berisi ekstrak daun tempuyung, berbeda dengan ramuan daun kumis kucing, keji beling dan lainnya.

Bila pegal-pegal sangat terasa, berarti pembentukan batu (steenvorming) sudah terjadi, maka hendaknya minum Calcusol 2x2 kapsul sehari selama 1 minggu sampai 3 minggu. Kemudian setelah terasa agak ringan, dikurangi menjadi 3x1 sehari. Selanjutnya menjadi 2x1 sehari dan 1x1 sehari (atau menurut petunjuk dokter) disertai minum air putih yg banyak. Selama pengobatan disarankan tidak makan bayam, tomat, daging kambing dan buah nanas.

Penelitian ini telah dilakukan oleh Prof. Dr. M. Sardjito sejak tahun 1949 sampai tutup usia pada tahun 1970. Calcusol tidak menimbulkan efek samping tertentu, seperti rasa sakit atau pendarahan ketika buang air kecil. Kapsul juga tidak mengandung zat kimia.

Senin, 03 Agustus 2009

Daun Tempuyung


Uraian :
Tempuyung tumbuh liar di tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung, seperti di tebing-tebing, tepi saluran air, atau tanah terlantar, kadang ditanam sebagai tumbuhan obat.

Tumbuhan yang berasal dari Eurasia ini bisa ditemukan pada daerah yang banyak turun hujan pada ketinggian 50 - 1.650 m dpl. Terna tahunan, tegak, tinggi 0,6 - 2 m, mengandung getah putih, dengan akar tunggang yang kuat. Batang berongga dan berusuk. Daun tunggal, bagian bawah tumbuh berkumpul pada pangkal membentuk roset akar. Helai daun berbentuk lanset atau lonjong, ujung runcing, pangkal bentuk jantung, tepi berbagi menyirip tidak teratur, panjang 6 - 48 cm, lebar 3 - 12 cm, warnanya hijau muda.

Daun yang keluar dari tangkai bunga bentuknya lebih kecil dengan pangkal memeluk batang, letak berjauhan, berseling. Perbungaan berbentuk bonggol yang tergabung dalam malai, bertangkai, mahkota bentuk jarum, warnanya kuning cerah, lama kelamaan menjadi merah kecokelatan. Buah kotak, berusuk lima, bentuknya memanjang sekitar 4 mm, pipih, berambut, cokelat kekuningan. Ada keaneka-ragaman tumbuhan ini. Yang berdaun kecil disebut lempung, dan yang berdaun besar dengan tinggi mencapai 2 m disebut rayana. Batang muda dan daun walaupun rasanya pahit bisa dimakan sebagai lalap. Perbanyakan dengan biji.


Nama Lokal :
Jombang, j. lalakina, galibug, lempung, rayana (Sunda).; Tempuyung (Jawa).; Niu she tou (China), laitron des champs (Perancis).; Sow thistle (Inggris).;

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Tempuyung rasanya pahit dan dingin.
KANDUNGAN KIMIA : Tempuyung mengandung oc-laktuserol, P-laktuserol, manitol, inositol, silika, kalium, flavonoid, dan taraksasterol.
EFEK FARMAKOLOGIS DAN HASIL PENELITIAN :
1. Penelitian pengaruh ekstrak air dan ekstrak alkohol daun tempuyung terhadap volume urine tikus in vivo dan pelarutan batu ginjal in vitro, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
a. daun tempuyung tidak secara jelas mempunyai efek diuretik, namun mempunyai daya melarutkan batu ginjal.
b. daya melarutkan batu ginjal oleh ekstrak air lebih baik daripada ekstrak alkohol (Giri Hardiyatmo, Fak. Farmasi UGM, 1988).
2. Praperlakuan flavonoid fraksi etil asetat daun tempuyung mampu menghambat hepatotoksisitas karbon tetrakiorida (CCL 4) yang diberikan pada mencit jantan (Atiek Liestyaningsih, Fak. Farmasi UGM, 1991).